// Daftar isi

Pada pekan Halloween, Uber melayani 320 juta perjalanan dan pesanan makanan. Dari jumlah itu, agen AI menyumbang sekitar 500 pesanan antar dan empat perjalanan. Bukan empat ribu, bukan empat persen. Empat mobil yang dipanggil lewat permintaan ke chatbot, bukan dengan mengetuk aplikasi.

Angka itu muncul pada 4 November 2026, dalam paparan kinerja kuartal ketiga Uber kepada investor. Analis JPMorgan Doug Anmuth bertanya soal agen AI. Di tengah jawabannya, CEO Dara Khosrowshahi menoleh ke direktur keuangannya sendiri, Balaji Krishnamurthy, dan bertanya berapa volumenya saat ini. Di Uber Eats, kata Krishnamurthy, agen menghasilkan “total 500 pesanan”. Sementara di layanan transportasi, “totalnya, tak tanggung-tanggung, 4 perjalanan.” Khosrowshahi merangkumnya: “masih sangat, sangat awal, dan daya tariknya sangat terbatas.”

CEO Uber Dara Khosrowshahi dalam sebuah pertemuan di New York, 2019
CEO Uber Dara Khosrowshahi dalam sebuah pertemuan di New York, 2019Foto: The Presidential Office of Ukraine. / Wikimedia Commons · CC BY 4.0

Padahal itu bukan pekan yang sepi. Krishnamurthy menyebutnya salah satu pekan tersibuk perusahaan, justru karena Halloween. Artinya, satu perjalanan dari agen untuk setiap 80 juta perjalanan dan pesanan.

// Lawan yang dihadapi agen

4perjalanan dipesan agen AI dalam sepekan
~500pesanan makanan dari agen AI pada pekan yang sama
50 dtkrata-rata waktu memesan mobil di aplikasi Uber
90 dtkcukup bagi separuh pelanggan untuk memesan ulang makanan favorit

Lima puluh detik yang tak bisa dipangkas lagi

Dalam paparan yang sama, Khosrowshahi menjelaskan mengapa angkanya begitu kecil. Memesan mobil di aplikasi Uber rata-rata makan waktu 50 detik. Di Uber Eats, separuh pesanan ulang makanan favorit selesai dalam kurang dari 90 detik. Agen baru ada gunanya kalau bisa mengalahkan itu, dan itu jelas tidak mudah. Anda harus mengetik atau mendiktekan permintaan, menunggu model memprosesnya, lalu tetap saja memeriksa apakah ia mengambil alamat yang benar.

Lagi pula, agen itu lambat. Para peneliti dari University of California, San Diego mengukur cara sistem AI mengoperasikan komputer. Tugas yang diselesaikan manusia dalam beberapa menit memakan waktu puluhan menit bagi agen, dan hampir seluruh waktu itu dipakai model untuk berpikir: merencanakan langkah dan mengecek ulang dirinya sendiri. Studi itu membahas tugas komputer, bukan taksi, tetapi gambarannya cukup jelas. Begitu agen selesai menimbang-nimbang, orang yang memakai aplikasi sudah duduk di dalam mobil.

Taksi adalah skenario terburuk bagi agen. Anda butuh mobil sekarang juga, Anda sudah berdiri di pinggir jalan dengan ponsel di tangan, dan aplikasi tahu posisi Anda serta menampilkan harga di peta. Tak ada yang perlu didelegasikan. Makanan memberi ruang lebih untuk memilih: mau makan apa, dari mana, untuk berapa orang. Mungkin itu sebabnya agen membuat 125 kali lebih banyak pesanan antar ketimbang pesanan perjalanan, meski itu pun masih sekadar angka receh. Supaya jelas, bagian ini hanya dugaan: Uber tidak menjelaskan selisihnya, dan tidak menyebut agen mana yang dihitung atau bagaimana caranya.

Stopwatch hampir penuh: memesan mobil butuh 50 detik, agen hanya kebagian celah sempit
Stopwatch hampir penuh: memesan mobil butuh 50 detik, agen hanya kebagian celah sempit

DoorDash juga masih menghitung ratusan

Uber tidak sendirian. Sepekan sebelumnya, dalam paparan 29 Oktober, CEO DoorDash Tony Xu mengakui bahwa agen pihak ketiga seperti Muse, Instinct, dan Fo mengirim “mungkin beberapa ratus pesanan secara total.” Sebagai perbandingan, DoorDash rata-rata mengantar 3 juta pesanan per hari pada 2025. Xu merumuskan sikapnya begini: “Kita tidak pernah mau melawan gravitasi. Tapi di saat yang sama, kita juga tidak mau berdelusi.”

Anehnya, orang sebenarnya senang memakai agen. Agen Muse milik Meta, yang kami bahas pada Oktober, sudah menjaring lebih dari 10 juta pengguna sejak diluncurkan pada September, dan belanja adalah hal yang paling sering diminta darinya. Tampaknya orang menyerahkan ke agen pekerjaan yang bisa menyita semalaman: membandingkan headphone, mencari kado, mengisi keranjang dengan sepuluh barang berbeda. Makan malam dan tumpangan lain cerita: keduanya tindakan singkat yang berulang, dan aplikasi sudah lama memangkasnya jadi beberapa ketukan.

Asisten buatan sendiri yang menang

AI milik perusahaan sendiri mendatangkan pesanan yang lebih besar. Menurut Khosrowshahi, data awal menunjukkan keranjang yang diisi dengan bantuan asisten di aplikasi pesan-antar Uber kira-kira dua kali lebih besar dari rata-rata. Amazon pamer skala besar-besaran dalam paparan 29 Oktober: CEO Andy Jassy mengatakan lebih dari 400 juta pelanggan memakai asisten Alexa for Shopping selama setahun terakhir. Pelanggan di AS yang memakainya berbelanja 50% lebih banyak per pesanan dibanding yang tidak. Namun di kedua kasus, angka itu membandingkan pengguna dengan semua orang lain; tak ada yang menjalankan eksperimen. Bisa jadi orang yang royal belanja memang lebih cepat mencoba hal baru.

Jassy terang-terangan berkata bahwa Alexa for Shopping akan menjadi agen utama yang dipakai orang untuk berbelanja di Amazon. Khosrowshahi menyampaikannya lebih halus: semua perusahaan AI sedang berunding dengan Uber, tetapi menurutnya layanan Uber sendiri akan tetap paling mudah dipakai.

Alasannya mudah ditebak. Asisten sendiri membuat pelanggan tetap berada di kandang perusahaan: ia melihat pesanan mereka dan bisa menjual iklan kepada mereka. Agen dari luar menjadikan layanan sekadar subkontraktor. Pesanan datang dari jendela chat, dan pelanggan pun menjadi milik pembuat chat tersebut. Xu bahkan sudah memikirkan apakah DoorDash bisa memasang iklan di dalam agen-agen itu.

Bagi pelanggan, ujungnya soal kepercayaan. Jika iklan muncul di dalam agen, “pilihan terbaik” makan malam versi bot bisa saja ternyata slot berbayar. Dan asisten milik Amazon atau Uber hanya akan menunjukkan apa yang dijual perusahaan itu. Sebenarnya, perusahaan-perusahaan ini sedang berebut satu hal: penasihat siapa yang akan Anda percayai.

Untuk saat ini, agen dari luar membawa pesanan yang begitu sedikit sehingga bisa dihitung satu per satu. Khosrowshahi, seperti dilaporkan TechCrunch, menutup topik itu tanpa banyak optimisme: “Dengar, kami berharap daya tariknya akan bertambah.” Meski begitu, angka-angka ini sudah memberi petunjuk di mana tempat agen sebenarnya. Orang senang menyerahkan perburuan headphone dan kado kepada bot, tetapi tetap memanggil mobil sendiri, berdiri di pinggir jalan dengan ponsel di tangan. Agen ada gunanya ketika orang malas berpikir, bukan ketika mereka malas mengetuk layar.